nanotech lihat situs sponsor

Kamis, 19 Oktober 2017  
 
  LIPI
depan
database
database
artikel
kegiatan
situs
info
publikasi
e-data
buku
kontak
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Harapan Baru Menghadang Kanker : Nanomedicine bisa difungsikan menghilangkan keterbatasan obat
Utami Widowati

MUNGKIN Anda pernah mendengar bahwa penyakit kardiovaskuler adalah penyakit pembunuh nomor satu di dunia. Penyebab terbesarnya adalah gaya hidup yang tak sehat, pola makan yang salah, juga usia.

Bagi perempuan di usia sebelum menopouse, boleh mengikis kecemasannya akan penyakit ini. Dengan produksi hormon estrogennya, perempuan sebelum usia menopouse punya benteng kokoh mencegah menyempitnya pembuluh darah, yang menjadi proses awal munculnya penyakit kardiovaskuler. Tapi hati-hatilah ketika menopouse datang. Kadar estrogen berkurang, dan penyumbatan pembuluh darah adalah risiko besar yang mesti dihadapi.

Ada hal penting lainnya. Penyakit pembuluh darah ternyata juga diturunkan. Diturunkan? Ya, sejumlah orang memang mewarisi bentuk pembuluh darahnya yang sempit dari orangtuanya. Tapi berdasarkan sejumlah penelitian angkanya tidak sebesar dibanding akibat akibat gaya hidup. Jadi bolehlah mulai berhitung, dalam keluarga Anda berapa orang yang menderita penyakit kardiovaskular.

Demikian pula dengan kanker. Meski banyak ahli menyebut penyebab kanker belum bisa sepenuhnya ditemukan, tapi sejumlah jenis kanker ternyata memang memiliki sifat menurun. Misalnya saja kanker payudara dan "saudarinya" kanker indung telur. Jika ada dua orang saja anggota keluarga yang menderita kanker payudara atau kanker rahim dan terdiagnosis di usia sebelum 50 tahun, sebaiknya waspada.

Tetapi jangan kemudian merasa kecil hati. Tiap penyakit sudah dijamin ada obatnya, dan para penelitilah yang bertugas mencarinya. Nah, kini bayangkan seandainya berbagai penyakit itu bisa diminimalisir risikonya. Berapa banyak sumber penyakit yang bisa mengurangi penderitaan manusia?

Nanoteknologi memberikan harapan itu. Bicara nanoteknologi bukan seperti salam "nano-nano" di film "Mork and Mindy" yang populer di tahun 1980-an, atau merek permen aneka rasa yang laris dipasaran. Nano yang ini berasal dari bahasa Yunani yang artinya kerdil. Ukurannya hanya satu per milyar meter. Nanoteknologi adalah teknologi yang berusaha mengembangkan berbagai materi yang memiliki ukuran nano ini.

Dalam dunia kesehatan, yang paling populer adalah penggunaan nanoteknologi untuk berbagai cara pengobatan dan terapi. Sejauh ini nanoteknologi diketahui telah menunjukkan kemampuan yang pesat dalam terapi hantaran obat dalam tubuh dan penemuan obat, perbaikan dan penggantian jaringan, penanaman jaringan dan pembuatan peralatan.

Peralatan operasi dan diagnostik seperti pencegahan dini terhadap kanker, AIDS atau penyakit infeksi lainnya, juga mulai dikembangkan berbasis teknologi ini. Ini memang teknologi baru yang sedang terus digali dan dikembangkan.

Selasa pekan lalu, Institute Human Virologi dan Biologi Kanker Universitas Indonesia (IHVCB-UI), mengundang dua peneliti dari Pusat Engineering Biomedical Massacusetts Institute of Technology, menyelenggarakan sebuah seminar tentang aplikasi nanoteknologi dalam dunia pengobatan.

Kehidupan biologi, merupakan sekumpulan molekul, yang bisa melakukan perakitan diri, mengatur diri dan menghancurkan diri sendiri. Serta kemampuan untuk bekerja sesuai dengan tradisi alam yaitu rekayasa bottom up dan dalam skala yang kecil berukuran nano.

Inilah yang merupakan keistimewaan nanoteknologi untuk diaplikasikan ke dalam berbagai ilmu pengetahuan termasuk dalam ilmu biologi.

"Jadi jangan kaget jika suatu saat, orang bisa membuat darah dari daun. Karena dengan mengubah beberapa partikel saja dari klorofil, rangkaian molekulnya bisa sama dengan darah manusia," kata pakar fisika Prof. Yohanes Surya, Ph.D, saat berkunjung ke Koran Tempo beberapa waktu lalu. Yohanes kini menjadi pengembang The Mochtar Riady Center for Nanotechnology and Bioengineering.

Molekul biologi berada dalam skala nano seperti DNA dengan lebar 2 nanometer (nm), misalnya saja protein 5-15 nm, dan virus 75-100 nm. Hingga nanoteknologi bisa membantu dalam memberikan pengertian yang lebih baik tentang makhluk hidup mulai dari manusia hingga alam sekelilingnya.

Sebagai contoh jika manusia bisa memahami bagaimana struktur molekul tulang maka berbagai penyakit termasuk osteoporosis bisa dihindari. Termasuk jika kita semakin paham bagaimana HIV/AIDS bisa mempengaruhi gen manusia maka jalan menuju kesembuhan penyakit ini semakin terbuka lebar.

Pengertian yang lebih baik tentang gen dan protein, dipadukan dengan kemajuan di bidang komputer akan membawa kemajuan yang lebih baik untuk memahami dan mengidentifikasi karakteristik protein penyakit dan penandaan DNA yang dapat menunjukkan kecenderungan seseorang terhadap kanker atau penyakit lain.

Pengetahuan penandaan DNA dan protein memberikan peluang pada penderita penyakit gen untuk pencegahan lebih dini dengan kecepatan pendeteksian mencapai sepuluh kali lebih cepat dan seratus kali lebih akurat. "Aplikasi lain dalam ilmu kedokteran adalah penggunakan nanomedicine dalam tubuh manusia," kata Steve J Yang, Ph.D Massacusetts Institute of Technology.

Ia menunjukkan pada penggunaan nanobots gen pada tubuh manusia yang didesain dalam ukuran nano dan menggunakan bahan-bahan alami yang bersifat biogradable seperti kalsium posfat, liposom, peptida dan sel-sel penghasil hormon hasil metode kapsulasi.

Sebenarnya metode ini juga bukan barang yang baru-baru amat. "Materi berukuran nano sudah ditemukan di dunia biologi, dengan segala superioritasnya."

Ribosom misalnya, adalah mesin yang sangat akurat dan cepat untuk mensintesa protein. Ngengat jantan memiliki antena yang bisa mendeteksi molekul pheromone tunggal yang dikeluarkan oleh ngengat betina dalam jarak jauh," kata Steve J Yang, Ph.D

Menurutnya dari kondisi alami seperti inilah kemudian nanoteknologi dikembangkan, dan menyusul kemudian pada usaha untuk mengenali pengorganisasian makro molekul, seperti protein, DNA dan ribonuleic acids (RNA) yang menjadi dasar banyak kejadian fenomenal.

Para ahli biologi bukan hanya tertarik hanya pada yang ada dibawah materi natural tapi juga tiruan penggunaannya dalam berbagai fungsi. "Desain materi berukuran nano itu kini bisa dibuat," katanya meyakinkan.

Prof. Yanto Lunardi-Iskandar, MD, Ph. dari UI menjelaskan, pembedahan sel atau membangun jaringan baru dalam kasus-kasus kanker sangat mungkin dilakukan. "Sementara formulasi nanomedicine mungkin bisa difungsikan untuk menghilangkan keterbatasan obat. Meningkatkan efektifitasnya sekaligus mengurangi efek sampingnya," katanya.

Apalagi nanomedicine bisa dikembangkan dari bahan dasar yang berasal dari alam seperti kalsium, posfat, liposom, peptida, dengan metode pengkapsulan.

Sementara Shuguang Zhang, Ph.D dari Pusat Engineering Biomedical Massacusetts Institute of Technology menjelaskan secara garis besar pengalamannya yang secara kebetulan, Zhang telah menemukan self-assembling peptida yang dibuat dari protein yeast, zuotin. Materi ini terakhir bisa dimanfaatkan untuk perbaikan jaringan, dan obat-obatan regeneratif.

Yang Sudah Dilakukan

Sejauh ini, Food and Drug Administration (FDA) badan pengawasan obat dan makanan di Amerika sudah meloloskan sejumlah obat yang termasuk dalam nanomedicine:

  • Vitoss (Orthovita): dari nanopartikel berundak yang berfungsi untuk pertumbuhan tulang, biasanya digunakan untuk bedah ortopedik.
  • Navavax-estrasorb (bentuk krim): nanopartikel yang dibentuk dari obat-obatan ethanol yang bisa larut, digunakan untuk penanganan masalah kulit terbakar.
  • Nucrest-Silcrest : untuk luka memar atau luka bakar dari yang dibuat dari nanokristalin.

Dalam penelitian terhadap hewan, Advectus Life Science menemuklan nanopartikel tertentu bisa mengatasi masalah pendarahan pada penderita glioblastoma.

Nanodot (Nasa) adalah obat yang dibangun dari nanomedicine yang bisa menjejak kerusakan sel akibat radiasi. JIka efek radiasi itu bisa dihilangkan, maka nanomedicine akan meningkatkan aktifitas enzim DNA untuk perbaikan.

Sloan Kettering pernah menciptakan molekul nanogenerator yang berhasil diujicobakan ke dalam penelotian perkilinikal. Nanomedicine ini menggunakan antibodi untuk melawan tumor, dan secara langusung menghasilkan radiasi untuk terapi radiasi.

Para peneliti dari Molecular Theurapetic juga menggali lebih jauh teknologi nano untuk pengembangan terapi. Mereka khususnya meneliti masalah seperti reseptor, peptide, dan antibodi yang spesifik untuk mendeteksi sejumlah penyakit yang mengancam seperti kanker dan kardiovaskular.

Sumber : Koran Tempo (10 Oktober 2004)

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 3 Desember 2005

 

  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2017 LIPI