nanotech lihat situs sponsor

Kamis, 19 Oktober 2017  
 
  LIPI
depan
database
database
artikel
kegiatan
situs
info
publikasi
e-data
buku
kontak
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

Bertabur Komputer Pasir
Wuragil

Kelak ribuan komputer beruk uran butiran pasir, bekerja seperti dalam dunia semut, bersama membangun sebuah superkomputer.

Bill Clinton, bekas Presiden Amerika itu, pekan lalu merasakan sesak di dadanya dan napasnya menjadi pendek. Di rumah sakit, dokter yang memeriksanya menemukan adanya empat titik penyempitan di arterinya. Jika tak dioperasi, besar kemungkinan Clinton mendapat serangan jantung di kemudian hari. Dokter merekomendasikan suatu operasi bypass mengingat kebiasaan merokok Clinton dan riwayat penyakit jantung di keluarganya.

Orang seperti Clinton termasuk yang berisiko tinggi terserang penyakit jantung. Sepatutnya mereka rajin memeriksakan kesehatan. Tetapi, kelak, orang-orang ini tak harus rutin melakukan pemeriksaan kesehatan yang biasa dilakukan untuk mengetahui prospek kesehatan jantungnya. Soalnya, semua informasi yang mereka butuhkan dapat diperoleh secara lebih praktis tanpa harus datang ke klinik.

Ya, bayangkan di bagian dada mereka ditempelkan sejumlah komputer liliput seukuran butiran pasir. Komputer-komputer mini itu akan saling bekerja sama dan berkomunikasi. Secara bersama, butiran-butiran komputer itu akan membangun sebuah superkomputer yang dapat merasakan dan beraksi ketika detak jantung orang yang diawasinya itu mulai menyimpang dari semestinya. Lalu, secara otomatis mengirim pesan SOS melalui telepon seluler ke dokter pribadi.

Memang, saat ini sistem itu masih berupa mimpi di benak dua tim berbeda, di Skotlandia dan Amerika Serikat. Namun, secara terpisah, mereka sedang mengembangkan proyek untuk mewujudkan ide yang mengubah debu yang banyak menempel pada permukaan benda-benda menjadi peranti keras yang cerdas dan terkoneksi dengan komputer atau internet.

Mudahnya, bayangkan ribuan komputer mini--tidak lebih besar ketimbang butiran pasir--bertebaran di mobil, pakaian, atau bahkan di tangan kita. Sebuah konsorsium peneliti yang terdiri atas lima universitas di Skotlandia sedang merancangnya. Mereka menyebut teknologi itu dengan Speckled Computing.

D.K. Arvind, direktur konsorsium, yang juga pengajar di University of Edinburgh, mengungkapkan bahwa dana sejumlah US$ 6,7 juta telah mereka terima dari berbagai perusahaan besar seperti Sun Microsystems, Motorola, dan Agilent, untuk mengembangkan penelitian tersebut. Arvind juga berkunjung ke Singapura untuk mendiskusikan proyek itu dengan kalangan industri mikroelektronik dan nirkabel di negeri itu. "Kami sedang menjajaki," kata dia.

Komputer-komputer mini Speckled Computing akan berwujud sebuah tabung semikonduktor berukuran satu milimeter kubik--seukuran butiran pasir. Tabung itu dilengkapi sebuah mikroprosesor yang sama seperti chip-chip yang ada pada komputer, ditambah kemampuan sensor dan komunikasi.

Arvind menerangkan, sebuah komputer mini memang tidak mampu bekerja banyak sendirian. Tetapi, dengan mengkombinasikannya secara bersama membentuk jaringan komputer yang memiliki fungsi komputer yang lebih besar ketimbang prosesor Pentium yang ada di komputer meja biasa. "Seperti dalam dunia semut saja, secara bersama mereka jauh lebih kuat," kata Arvind.

Koloni dari perangkat mini itu dapat tersambung dengan komputer lain atau dengan internet sehingga aksi-aksi yang diperlukan ketika ada perubahan yang terjadi dapat direalisasikan.

Tim lainnya di Amerika, tepatnya di University of California di Berkeley, merancang teknologi serupa yang terdiri dari ribuan sensor berukuran butiran pasir dinamai Smart Dust. Salah satu aplikasi yang telah dicobakan tim di Berkeley untuk mendeteksi cahaya dan suhu.

Laboratorium Penelitian Intel di kota yang sama bahkan telah mendemonstrasikan jaringan 800 sensor noda berukuran 1 inci persegi pada Agustus 2001. Tetapi, Arvind menegaskan, jenis yang akan dikembangkan kelompoknya akan memiliki kemampuan komputasi dan jaringan terprogram yang lebih baik ketimbang milik Intel. "Debu yang cerdas adalah sebuah jaringan sensor yang sangat penting. Dengan setiap butirannya yang dapat diprogram, Anda dapat mengerjakan komputasi in situ," kata dia sambil menambahkan, dapat men-download sebuah program ke dalamnya.

Kuncinya adalah kemampuan untuk terprogram. "Anda ingin memprogram dan mengubah fungsionalitas dari butiran (komputer), Anda dapat melakukannya jika memang memiliki kemampuan untuk terprogram (di dalamnya)," ujarnya.

Selain untuk kesehatan (mendeteksi detak jantung), komputer-komputer mini itu juga dapat ditebarkan di dasar bagian dalam sebuah cangkir kopi di kafe-kafe. Tujuannya untuk menginformasikan kapan kopi akan mendingin atau hampir habis.

Informasi akan tersambung ke komputer kafe sehingga pelayan bar dapat datang untuk menambahkan isi kopi ke cangkir yang hampir habis itu tanpa diberi tahu si empunya cangkir.

Industri otomotif sangat tertarik untuk menerapkan teknologi ini dalam bidang keselamatan yang sangat penting bagi para pembeli mereka. Sebagai contoh, kantong-kantong udara yang ada saat ini sangatlah besar, didesain untuk ukuran orang dewasa sehingga sangat fatal bagi seorang bocah karena dapat tercekik oleh tekanannya yang tidak sesuai.

Tetapi, beberapa butiran pintar di atas jok dapat mengetahui seberapa berat atau besar penumpang yang mendudukinya. Kantong udara lalu dapat dibuat bekerja menurut ukuran penumpang bersangkutan.

Militer Amerika juga melirik teknologi ini: Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) telah menggelontorkan dana untuk sejumlah aspek dari Smart Dust. Mereka tertarik untuk membuktikan apakah debu-debu pintar itu dapat digunakan, misalnya, untuk mengawasi secara diam-diam dalam sebuah situasi kekerasan atau mengumpulkan data pergerakan musuh.

Menjanjikan memang, tapi konsorsium Skotlandia mengakui, masih perlu tujuh hingga delapan tahun ke depan sebelum teknologi itu dapat dijumpai di pasar. "Yang jelas, ini adalah sebuah evolusi dalam cara kita berpikir tentang penggunaan komputer," kata Arvind.

Untuk saat ini, tantangannya masih berupa bagaimana merangkum seluruh perangkat pemerosesan dan komunikasi ke dalam ukuran yang mini dan membuatnya dapat saling bekerja sama. Barulah setelah itu, soal sumber tenaga. Sebuah baterai tentu saja tidak bisa terlalu besar. Pada gilirannya, ini menimbulkan pertanyaan berikutnya tentang seberapa panjang atau lama jaringan butiran komputer itu dapat bekerja.

Kelompok di Berkeley menoleh pada energi getaran untuk mencari sumber tenaga bagi fuel cell, sedangkan konsorsium Speckled Computing berharap pada energi matahari.

Sumber : Koran Tempo (9 September 2004)

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 3 Desember 2005

 

  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2017 LIPI