nanotech lihat situs sponsor

Jumat, 15 Desember 2017  
 
  LIPI
depan
database
database
artikel
kegiatan
situs
info
publikasi
e-data
buku
kontak
  Artikel-artikel populer :
» daftar artikel

DENGAN NANOTEKNOLOGI, KEBUTAAN DAPAT DIATASI
Wah

Nanoteknologi telah dikembangkan untuk mengembalikan indera penglihatan. Berkat bantuan larutan berisi partikel-partikel khusus berukuran nanometer, hamster yang dibutakan dapat melihat kembali. Mula-mula, para ilmuwan memanfaatkan efek trauma untuk merusak syaraf-syaraf optis di otak hamster. Dengan demikian, binatang pengerat tersebut tidak lagi dapat melihat karena otaknya tidak merespon indera penglihatannya. Begitu larutan khusus disuntikkan di otaknya, sel-sel syaraf yang rusak berkembang kembali sehingga hamster dapat melihat seperti sediakala. Tim peneliti berharap teknik ini dapat digunakan untuk memperbaiki luka operasi di otak untuk masa-masa mendatang. Mereka melaporkan hasil penelitian tersebut dalam Proceedings of the National Academy of Sciences. Memperbaiki kerusakan syaraf di sistem syaraf pusat karena cedera adalah tantangan bagi para ahli otak. Sejauh ini, tingkat keberhasilan melakukan hal tersebut masih sangat rendah. Oleh karena itu, tim peneliti dari Institut Teknologi Massachusetts (MIT) dan Universitas Hong Kong memanfaatkan manipulasi atom dan molekul untuk menemukan cara terbaik mengatasi masalah ini. Para peneliti menyuntik bagian otak hamster buta yang mengalami kerusakan dengan larutan yang mengandung peptida-peptida sintetis. Sebuah molekul peptida hanya berukuran sekitar lima nanometer. Begitu masuk ke otak hamster, peptida akan membentuk serat berukuran nanometer yang akan menyambung syaraf-syaraf yang terputus. Para ilmuwan menemukan bahwa jaringan otak hamster saling terhubung dengan bantuan ikatan-ikatan molekul tanpa ada bekas luka. Jaringan otak yang baru terbentuk menyebabkan syaraf-syaraf otak yang mengendalikan penglihatan kembali berkembang. "Kami telah memutusnya, meletakkan material di antaranya, dan kemudian mengamati pengaruhnya sepanjang waktu," kata penulis utamanya Dr. Rutledge Ellis-Behnke dari MIT. Otak mulai menyembuhkan lukanya dalam 24 jam pertama, sesuatu yang belum pernah dilihat sebelumnya. Para peneliti juga mengamati pengaruhnya pada hamster muda yang jaringan otaknya masih aktif berkembang dan hamster tua yang pertumbuhannya telah berhenti. Para peneliti terkejut sebab otak tikus yang tua pun tetap tubuh kembali setelah disuntik larutan tersebut. "Kami telah memastikan fungsi pertumbuhan pada proses penglihatan yang sangat luar biasa. Kami kira, memicu pertumbuhan sel dapat dilakukan dengan merangsang faktor-faktor pertumbuhannya," kata Ellis-Behnke. Para peneliti juga menemukan bahwa peptida akan rusak menjadi substansi yang tak diperlukan tubuh. Peptida yang rusak dibuang melalui urine sekitar tiga hingga empat minggu setelah disuntikkan ke tubuh. Pengobatan Mereka yakin telah menemukan cara mengatasi kerusakan syaraf dan berharap dapat memanfaatkannya sebagai terapi pengobatan medis pada tahap selanjutnya. "Kami melihatnya hasil temuan ini sebagai proses menuju ke sana. Jika hal tersebut telah dapat digunakan untuk memperbaiki luka akibat operasi otak, mungkin ini baru langkah pertamanya," kata Dr Ellis-Behnke. Manfaat utama yang sedang dilirik para peneliti adalah mencoba menghubungkan fungsi bagian-bagian tubuh yang terputus saat seseorang terkena serangan stroke dan trauma. Menurut Dr Ellis-Behnke, stroke dan kerusakan otak karena trauma adalah gangguan besar pada tubuh manusia. Jika pemulihannya dapat dilakukan, hal tersebut akan sangat bermanfaat. Sumber: bbc.co.uk Penulis: Wah

» kirim ke teman
» versi cetak
revisi terakhir : 26 Juni 2006

 

  Dikelola oleh TGJ LIPI Hak Cipta © 2000-2017 LIPI